thevaj on the move!!


Agenda mendesak bangsa Selamatkan Indonesia!

Posted in Resensi Buku by gawean on the June 3, 2008

Bila berbicara mengenai nasionalisme, kita akan menjumpai berbagai bentuk nasionalisme mulai dari nasionalisme politik, nasionalisme ekonomi, nasionalisme pendidikan, nasionalisme pertahanan-keamanan, hingga nasionalisme olahraga dan nasionalisme dalam bentuk kehidupan lainnya. In case, nasionalisme olahraga, bentuk ini merupakan bentuk nasionalisme simbolik karena sifatnya yang dapat disaksikan, dapat diperlihatkan atau kasat mata, serta merupakan pajangan window show sebuah bangsa.

Bila bangsa Indonesia diibaratkan sebuah rumah di pinggir jalan raya maka olahraga itu bagaikan pagar didepan rumah yang terlihat langsung oleh para pengguna jalan. Pada saat tulisan ini ditulis, bangsa dan pemerintah Indonesia seperti pemilik rumah ditepi jalan tersebut. Akan tetapi, si pemilik rumah punya obsesi aneh. Mereka ingin pagar rumah selalu terlihat bersih, mengkilat dan tidak berdebu. Yang terpenting adalah penampilan sisi depannya, sedangkan yang lain masa bodoh. Sehingga ketika perabotan rumah dicuri orang meski disaksikan langsung oleh pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Si pemilik rumah tidak langsung mengambil tindakan. Ia hanya menjadi penonton seolah tidak ada perlu dikhawatirkan.

Kira-kira begitulah Mohammad Amien Rais lewat bukunya “Agenda mendesak bangsa Selamatkan Indonesia!” mencoba menggambarkan sebuah kontradiksi yang terjadi terhadap bangsa Indonesia. Seolah-olah nasionalisme bangsa ini sudah demikian pudarnya sampai-sampai beliau mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai pemilik rumah yang kurang peduli dengan aksi-aksi pencurian terhadap perabotan rumahnya. Pemilik rumah yang hanya peduli dengan penampilan depan tetapi cuek terhadap aksi-aksi orang lain yang merugikan dirinya.

Amien Rais khawatir kasus penjarahan yang dialami masyarakat Indonesia oleh Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) terulang kembali. Aksi-aksi penjarahan berkedok politik dagang ternyata sangat merugikan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Begitu pula ulah tiga pilar globalisasi yakni IMF, World Bank, dan WTO yang dikemudian hari ternyata hanyalah kepanjangan tangan pemerintahan Washington (Amerika).

Usulan reformasi ekonomi IMF terhadap pemerintah Indonesia ketika terjadi krisis multidimensi tahun 1997-1998, ternyata hanya membuat bangsa Indonesia makin terpuruk. Terlebih lagi pada tahun 2008 ini, IMF ibarat sebuah bank yang ditinggalkan nasabahnya. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika suatu bank kehilangan nasabahnya, kalau tidak bangkrut ya bakal segera ditutup.

Menukil kritikan Joseph Stiglitz, World Bank ternyata juga kerjanya mirip-mirip dengan IMF. Hanya bedanya, World Bank adalah sebuah organisasi yang terus belajar (a learning organization) sedangkan IMF adalah organisasi yang gagal belajar (learning impaired). Begitu pula dengan WTO. Dikatakan bahwa, WTO tidak mengelola ekonomi global secara adil. Beberapa keputusan dan operasinya penuh dengan bias sistematik yang menguntungkan Negara-negara kaya dan korporasi multinasional serta merugikan Negara-negara miskin yang tidak memiliki kekuatan dan daya tawar. Lebih parahnya lagi, WTO ini merupakan kepanjangan tangan pemerintah Amerika.

Kritik tajam dari seorang Amien Rais tidak berhenti terhadap aksi-aksi IMF, World Bank, dan WTO. Dalam bab IV tentang Pax Americana, beliau pun mengkritik kebijakan pemerintahan Amerika yang dimulai dengan masuknya pengaruh kaum neocons seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Andrew Marshall, sampai Donald Rumsfeld. Kemudian mengenai perang Irak. Lewat dana lebih dari satu trilyun dolar Amerika ternyata memakan korban rakyat sipil begitu banyak, infrastruktur Irak banyak yang hancur bahkan serdadu Amerika yang tewas sudah mendekati angka 4000 jiwa. Pemerintahan AS ternyata juga gagal mengatasi dampak badai Katrina bahkan badai itu mampu menampar muka Pemerintahan Washington karena ternyata ada bagian Amerika yang melarat, terbelakang, kumuh tanpa harapan dimasa depan. Penanganan korban pun dianggap lambat dan tidak serius. Demikian juga ketika jembatan Missisipi ambrol segera terkuak bahwa 28% jembatan lainnya di Amerika memiliki kualitas yang mirip dengan jembatan Missisipi. Hal ini tak ubahnya dengan Negara berkembang. Dalam hal ekonomi, ternyata Amerika sudah semakin rapuh. Defisit dagang terutama dengan China dan Uni Eropa, hutang luar negeri yang hampir 2,3 trilyun dolar, serta nilai tukar dolar yang terus melemah.

Mengenai Pax Americana ini, Amien Rais mengingatkan komentar Arnold Toynbee :

“Dari dua puluh dua peradaban yang pernah muncul dalam sejarah, Sembilan belas diantaranya runtuh tatkala sampai pada keadaan (tingkatan) moral seperti dialami Amerika sekarang ini”.

Amien Rais juga mencoba mengingatkan pembaca dengan istilah korporatokrasi yakni sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan mengontrol ekonomi dan politik global yang memiliki tujuh unsur utama yakni korporasi besar, kekuatan politik pemerintahan tertentu terutama Amerika dan kaki tangannya, perbankan internasional, kekuatan militer, media massa, kaum intelektual yang dikooptasi, serta elite nasional dari Negara-negara berkembang yang bermental Inlander, komprador, atau pelayan.